Jumat, 07 Juni 2013
Tugas-tugas yang banyak dan menumpuk membuat saya bingung
untuk mengerjakannya. Apalagi ada satu tugas yang mengharuskan saya menulis
dengan jumlah yang tidak sedikit. Awa
lnya sih santai ajah, eh pas ada temen yang udah posting tulisannya lebih dari 10 dan saya beloman sama sekali, langsung panik lah.
lnya sih santai ajah, eh pas ada temen yang udah posting tulisannya lebih dari 10 dan saya beloman sama sekali, langsung panik lah.
Bingung
pusing puyeng, tugas yang satu belom selesai ini udah dikejar-kejar tulisan
yang numpuk. Aduuuuh mau nulis apa? Bikin cerpen #ga bisa, puisi #apalagi,
bikin tulisan tentang kehidupan #nyerah.......... saya kekurangan
inspirasi.........
Biasanya
para seniman seperti pelukis, penulis, dll apabila mereka kekurangan inspirasi,
mereka pergi ke pantai, puncak, hutan, danau, dan tempat-tempat lainnya. Dengan
melihat alam bebas kreatifitas, inspirasi akan bertambah.
Apakah saya
juga harus pergi ke tempat-tempat tersebut? Saya kan juga harus kuliah, uang
juga ga punya. Jadi harus bagaimana untuk menemukan inspirasi buat bikin
tulisan?
Kebingungan
mau nulis apa, akhirnya saya baca-baca tulisan orang di blog buat nyari
inspirasi tulisan. Dari beberapa tulisan orang yang saya baca, mereka menulis
tentang yang ada di sekitar. Misalkan kebersihan lingkungan, sejarah suatu
tempat, asal usul, dll.
Jadi saya
menarik kesimpulan, sebenarnya inspirasi itu sudah ada disekitar kita, melimpah
ruah disekitar kita, kita tinggal
menemukan inspirasi dan mengembangkan apa yang ada. Jadi sekarang saya mencoba
menemukan inspirasi yang ada disekitar untuk dapat dijadikan sebuah tulisan.
Menulislah
dari yang ada disekitar !
Ditulisan sebelumnya, saya sedikit membahas tentang Papeda. Masakan Khas Provinsi Papua ini memang sangat jarang kita temui di daerah luar seperti Jakarta bahkan tidak ada. Bagi yang ingin menikmati makanan unik ini jangan berkecil hati, kita tidak harus terbang ke Papua untuk menikmatinya, kita dapat membuatnya sendiri di rumah. Ya memang sensasi rasanya tidak senikmat di tempat aslinya...
Berikut ini saya akan memberikan resep Papeda serta Ikan Kuah Kuning yang saya dapat dari blog orang. hehehe......
Papeda
Bahan membuat papeda :
Bahan :
sumber : http://resepmasaktradisional.blogspot.com/2012/11/Cara-Membuat-Papeda.html
Berikut ini saya akan memberikan resep Papeda serta Ikan Kuah Kuning yang saya dapat dari blog orang. hehehe......
Papeda
Bahan membuat papeda :
- 100 gr tepung sagu
- 1000 cc air
- 1/2 sdt garam
- 1/2 sdt gula
- Cairkan tepung sagu dengan 300 ml air
- Tambahkan garam dan gula
- Didihkan sisa air
- Tuang air yang sudah mendidih ke dalam larutan tepung sagu, aduk perlahan sehingga sagu matang merata
- Papeda dikatakan sudah matang jika sudah berwarna bening jika masih belum merata matangnya adonan bisa dimasak di atas api kecil sambil terus diaduk
- Jika sudah bening angkat dan sajikan hangat.
Bahan :
- 1/2 kg ikan tongkol, bersihkan dan rendam dengan jeruk nipis dan garam
- 1 buah jeruk nipis, peras
- kemangi, siangi
- cabe rawit hijau, buang batangnya
- 2 sdm minyak untuk menumis
- 1 batang sereh, memarkan
- 2 lembar daun salam
- 600 ml air matang
- 2 siung bawang putih
- 4 buah bawang merah
- 3 buah kemiri
- 2 cm jahe
- 2 cm kunyit
- 1 sdm gula pasir
- 1 sdt sdm garam
- Tumis bumbu yang sudah dihaluskan beserta sereh dan salam hingga harum dan matang
- Tambahkan air matang, masak hingga mendidih
- Masukkan ikan, garam, gula dan cabe rawit, masak hingga ikan matang
- Sesaat sebelum masakan diangkat, tambahkan daun kemangi dan jeruk nipis, aduk rata
- Sajikan sebagai pelengkap papeda
sumber : http://resepmasaktradisional.blogspot.com/2012/11/Cara-Membuat-Papeda.html
Kamis, 06 Juni 2013
Ulat merupakan salah satu binatang yang
menjijikkan untuk sebagian besar orang. Ketika kata “ulat” disebutkan, pasti
yang terbayang adalah binatang kecil yang berjalan dengan memelarkan dan
menarik badannya. Walaupun ulat ada dalam lagu dan sering dinyanyikan (telur
telur, ulat ulat, kepompong, kupu-kupu, kasian deh lu...), namun tak sedikit
orang yang menghindari ulat. Ulat yang sering kita kenal yaitu ulat bulu yang
amat dihindari karena menyebabkan gatal-gatal, ulat sagu yang popular di daerah
timur, dll. Kali ini saya akan sedikit membahas tentang ulat sagu.
Ulat sagu merupakan larva dari
kumbang merah kelapa atau Rhynchophorus Ferruginenus. Binatang ini biasanya ada
didalam batang sagu yang sudah membusuk. Ulat sagu ini merupakan salah satu
santapan sehari-hari masyarakat Kamoro, Papua. Masyarakat Kamoro biasa menyebut
ulat sagu dengan sebutan ‘koo’. Biasanya ulat sagu ini dimakan dengan sagu.
Jadi biasanya masyarakat Kamoro mencari sagu sambil mencari ulat yang terdapat
didalam batang sagu.
Banyak cara yang dilakukan
masyarakat Kamoro untuk menyantap ulat sagu, seperti dibakar, dimasukkan
kedalam sagu (sebagai isi), digoreng, dll. Namun masyarakat Kamoro juga banyak
yang memakannya secara hidup-hidup (mentah).
Orang Kamoro meyakini ulat sagu mengandung
banyak vitamin. Semakin banyak menyantap ulat sagu, akan semakin sehat.
Keyakinan masyarakat Kamoro ini memang tidak salah, karena berdasar penelitian,
ulat sagu merupakan lauk bergizi yang bebas kolesterol. Kandungan protein ulat
sagu sekitar 9.34%. Ulat ini juga mengandung beberapa asam amino esensial,
seperti asam aspartat (1.84%), asam glutamat (2.72%), tirosin (1.87%), lisin
(1.97%) dan methionin (1.07%).
Dari beberapa orang yang pernah
menyantap ulat sagu, mereka berpendapat bahwa ketika ulat sagu digigit, tubuh
ukat sagu akan melumer dan meninggalkan rasa gurih seperti santan di lidah, sedangkan
kepalanya krispy.
Penasaran bagaimana rasa ulat sagu?
Silahkan coba sendiri....
Sumber:
Ensiklopedi Binatang Penyembuh oleh Astrid D Hadi
Siapa yang
tahu papeda? Papeda bukan merupakan hasil inovasi dari sepeda, namun papeda
merupakan makanan khas masyarakat timur, khususnya Papua.
Mungkin sebagian dari kita masih
sangat lazim dengan kata papeda karena makanan ini hanya ada di Papua. Namun saat
ini sudah banyak acara televisi yang menayangkan kebudayaan Papua termasuk
makanannya yaitu papeda.
Tidak seperti masyarakat Pulau Jawa
yang makanan pokoknya beras (nasi), makanan pokok masyarakat Papua adalah sagu
yang diolah menjadi papeda. Papeda bertekstur
lengket seperti lem dan memiliki rasa tawar (hambar).
Di tanah Cendrawasih tersebut, memang
cukup banyak tumbuh pohon sagu. Sejenis pohon kelapa ini banyak tumbuh di
dataran rendah dan berair atau tanah yang basah. Jadi cukup wajar bila sagu
menjadi makanan pokok masyarakat Papua. Tanaman sagu memiliki banyak manfaat.
Manfaat sagu diantaranya yaitu sebagai sumber karbohidrat yang digunakan untuk
mengganti beras, dapat mengatasi pengerasan pada pembuluh darah, mengatasi
sakit pada ulu hati serta membantu mengatasi perut kembung. Selain itu penganan
yang berasal dari sari pati umbian ini juga bermanfaat untuk menekan kecepatan
kadar glukosa dalam darah sehingga bagi mereka yang menderita diabetes melitus
sangat aman mengkonsumsinya. Serat yang terdapat didalamnya berperan untuk
pre-biotik, menjaga mikroflora usus, meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi
resiko terjadinya kanker usus, mengurangi resiko terjadinya kanker paru-paru,
mengurangi kegemukan atau obesitas serta memperlancar BAB (Buang Air Besar).
Adapun kandungan zat yang terdapat
pada bahan makanan ini ialah 94 gram karbohidrat, memiliki 355 kalori untuk
setiap 100gram nya, 0,2 gram protein, 0,5 gram serat, 10 mg kalsium, 1,2 mg
besi, lemak, karoten, serta asam askorbat dalam jumlah yang kecil. Jadi mengkonsumsi sagu dapat membuat tubuh
menjadi seimbang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Papeda yang terbuat dari
sagu ternyata berkarbohidrat tinggi dan sangat bernutrisi bagi tubuh.
Papeda sering disajikan masyarakat
Provinsi Papua pada acara-acara adat, acara keluarga, lomba masak daerah, dan
berbagai acara laiinnya. Biasanya masyarakat Papua menyantap papeda bersama
menu ikan kuah kuning, ikan yang biasa digunakan adalah ikan tongkol dan sayur
tumis kangkung campur daun pepaya.
Makanan berbahan dasar sagu tak
hanya ada di Papua, namun ada daerah di
Sulawesi Selatan yaitu daerah Luwu (Kota
Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur) yang mengenal Papeda dengan
nama “Kapurung”. Meskipun memiliki bahan dasar yang sama, namun penyajian
papeda dan kapurung berbeda.
Tak hanya rasa papeda yang unik , namun cara penyajian papeda
juga terbilang unik berbeda dari makanan pada umumnya. Banyak orang yang tidak
biasa, mungkin berpikir untuk menggunakan sendok. Memang tidak ada yang
malarang, namun bagi penduduk asli papua tidak akan menggunakan cara tersebut.
Sebab papeda yang siap disantap akan ia “disedot” perlahan-lahan dari ujung
(pinggir) piring, sambil meminum kuah ikan kuning. Aneh ya ? Tapi itulah cara
‘unik’ mereka menyantapnya. Menikmati papeda lebih nikmat dalam keadaan hangat,
bila sudah dingin rasa papeda sudah tidak lembek dan kenyal lagi.
Mulai membayangkan bagaimana nikmatnya papeda ya?
Rabu, 05 Juni 2013
Karena sebuah kecelakaan dalam proses produksi, mengakibatkan
ketidaksempurnaan Doraemon. Doraemon kurang 1 sekrup dibanding robot
kucing lainnya sehingga Doraemon menjadi barang kelas dua.
Walau Doraemon tidak begitu baik dalam study-nya. Robot ini lalu
dikirim ke Akademi Robot untuk dilatih sebagai robot rumah tangga.
Dalam setiap ujiannya, Doraemon selalu mendapatkan nilai yang buruk
(Perhatikan angka 0 pada kertas ujiannya) Namun pada akhirnya Doraemon
bisa lulus juga.
Akibatnya, Doraemon dilelang dan ditawar oleh sebuah keluarga miskin.
Dia harus bekerja sebagai babysitter dan menjadi pengasuh dari
keturunan Nobita.
Pada suatu hari, saat Doraemon sedang asik tidur siang, sebuah robot
tikus menggigit kedua daun telinganya. (Catatan: Sumber lain mengatakan
bahwa robot tikus tersebut merupakan milik Sewashi, cicitnya Nobita).
Sejak saat itu Doraemon trauma sehingga jadi takut sama tikus.
Kejadian ini membuat Doraemon sangat sedih dan menangis selama 10 hari.
Doraemon menangis…. dan terus menangis…
Doraemon menangis…. dan terus menangis…
Karena terus menangis, air mata Doraemon membuat warna asli Doraemon
yang kuning terang menjadi luntur… Air matanya menghapus warna tubuhnya…
Sehingga jadi biru seperti yang kita tahu sekarang.
sumber : http://ridu.tumblr.com/post/888444465/sejarah-awal-terciptanya-doraemon
Mata merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk
melihat. Dengan berfungsinya mata, kita dapat melihat orang lain, melihat
keadaan lingkungan, membaca, dll. Tidak semua orang diberikan kenikmatan untuk
melihat dengan mata oleh Tuhan. Maka sebagai orang yang beruntung, sudah
seharusnya kita menjaga kesehatan mata sebagai bentuk mensyukuri nikmat Tuhan.
Banyak
cara untuk menjaga kesehatan mata seperti makan makanan yang mengandung vitamin
A (contohnya wortel), tidak membaca sambil tiduran, tidak menonton televisi
terlalu dekat, dll.
Kita
juga sebaiknya memeriksakan kesehatan mata secara rutin, agar kita tahu apakah
keadaan mata kita masih sehat atau tidak sehingga perlu memakai kacamata.
Apabila mata kita mengalami penurunan fungsi, dapat diminimalisasi agar tidak
menjadi gangguan yabng parah dengan pemeriksaan ke dokter secara rutin.
1. Menyipitkan
Mata Saat Melihat Sesuatu
Sering menyipitkan
mata saat memandang atau melihat sesuatu merupakan tanda tunggal bahwa
seseorang membutuhkan kacamata. Hal ini paling sering dilakukan saat ingin
melihat benda dalam jarak jauh. Saat kita menyipitkan mata berarti memperkecil
ukuran pupil mata. Nah, kita tahu bahwa pupil berfungsi sebagai tempat
keluar-masuknya cahaya agar suatu benda dapat terlihat. Alhasil, ukuran pupil
yang kecil berarti mengurangi penglihatan yang kabur.
2. Sering
Sakit Kepala
Sakit kepala yang
terlalu sering merupakan tanda bahwa kita membutuhkan kacamata. Sakit kepala
akan dialami setelah berkonsentrasi untuk memfokuskan sesuatu dalam waktu yang
lama. Sakit kepala biasa dialami setelah berjam-jam berada di depan monitor
computer. Sakit kepala karena gangguan pada mata terjadi di kepala bagian
depan. Sakit kepala bisa berkembang menjadi rasa nyeri yang berlangsung selama
berjam-jam.
3. Tidak
Bisa Membaca Tulisan Jarak Dekat
Jika kita selalu
menjauhkan buku atau tulisan dari mata, bisa dipastikan bahwa kita butuh
kacamata membaca. Kejadian ini biasa dialami oleh seseorang yang berusia di
atas 40 tahun. Pertambahan usia memang berhubungan dengan penurunan kerja lensa
mata.
4. Salah
Menilai Jarak
Jika kita sering
salah memperkirakan jarak saat memarkirkan mobil atau salah melihat kedalaman
suatu bangunan, maka kita butuh sebuah kacamata. Saat kita menggunakan kacamata
maka dapat meningkatkan persepsi seseorang untuk menentukan kedalaman suatu
bangunan (persepsi bangun ruang).
5. Cepat
Lelah
Jika kita cepat
merasa lelah setelah mengerjakan tugas yang ringan, bisa diartikan bahwa mata
kita di luar fokus. Otak manusia akan lebih terstimulasi saat fungsi
penglihatan normal. Penglihatan kabur dapat disebabkan oleh kelelahan atau
kurangnya konsentrasi yang berakibat pada penurunan kinerja tubuh.
Jika jawaban Anda “iya” pada salah satu alasan di
atas, sebaiknya Anda melakukan pemeriksaan mata dan menggunakan kacamata. Sifat
menunda-nunda hanya akan memperburuk keadaan. Penglihatan yang prima akan
mendukung kinerja Anda prima juga.
Langganan:
Postingan (Atom)

