Tampilkan postingan dengan label tentang Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juni 2013

Resep Papeda dan Ikan Kuah Kuning

      Ditulisan sebelumnya, saya sedikit membahas tentang Papeda. Masakan Khas Provinsi Papua ini memang sangat jarang kita temui di daerah luar seperti Jakarta bahkan tidak ada. Bagi yang ingin menikmati makanan unik ini jangan berkecil hati, kita tidak harus terbang ke Papua untuk menikmatinya, kita dapat membuatnya sendiri di rumah. Ya memang sensasi rasanya tidak senikmat di tempat aslinya...
      Berikut ini saya akan memberikan resep Papeda serta Ikan Kuah Kuning yang saya dapat dari blog orang. hehehe......

Papeda
Bahan membuat papeda :

  • 100 gr tepung sagu
  • 1000 cc air
  • 1/2 sdt garam
  • 1/2 sdt gula
Cara Membuat Resep Cara Membuat Papeda (Papua) :
  1. Cairkan tepung sagu dengan 300 ml air
  2. Tambahkan garam dan gula
  3. Didihkan sisa air
  4. Tuang air yang sudah mendidih ke dalam larutan tepung sagu, aduk perlahan sehingga sagu matang merata
  5. Papeda dikatakan sudah matang jika sudah berwarna bening jika masih belum merata matangnya adonan bisa dimasak di atas api kecil sambil terus diaduk
  6. Jika sudah bening angkat dan sajikan hangat.
Ikan Kuah Kuning Sebagai Pelengkap Papeda
Bahan :
  • 1/2 kg ikan tongkol, bersihkan dan rendam dengan jeruk nipis dan garam
  • 1 buah jeruk nipis, peras
  • kemangi, siangi
  • cabe rawit hijau, buang batangnya
  • 2 sdm minyak untuk menumis
  • 1 batang sereh, memarkan
  • 2 lembar daun salam
  • 600 ml air matang
Bumbu yang dihaluskan:
  • 2 siung bawang putih
  • 4 buah bawang merah
  • 3 buah kemiri
  • 2 cm jahe
  • 2 cm kunyit
  • 1 sdm gula pasir
  • 1 sdt sdm garam
Cara membuatnya :
  1. Tumis bumbu yang sudah dihaluskan beserta sereh dan salam hingga harum dan matang
  2. Tambahkan air matang, masak hingga mendidih
  3. Masukkan ikan, garam, gula dan cabe rawit, masak hingga ikan matang
  4. Sesaat sebelum masakan diangkat, tambahkan daun kemangi dan jeruk nipis, aduk rata
  5. Sajikan sebagai pelengkap papeda
Selamat Memasak!

sumber : http://resepmasaktradisional.blogspot.com/2012/11/Cara-Membuat-Papeda.html

Kamis, 06 Juni 2013

Ulat Sagu, lauk bergizi yang bebas kolesterol


Ulat merupakan salah satu binatang yang menjijikkan untuk sebagian besar orang. Ketika kata “ulat” disebutkan, pasti yang terbayang adalah binatang kecil yang berjalan dengan memelarkan dan menarik badannya. Walaupun ulat ada dalam lagu dan sering dinyanyikan (telur telur, ulat ulat, kepompong, kupu-kupu, kasian deh lu...), namun tak sedikit orang yang menghindari ulat. Ulat yang sering kita kenal yaitu ulat bulu yang amat dihindari karena menyebabkan gatal-gatal, ulat sagu yang popular di daerah timur, dll. Kali ini saya akan sedikit membahas tentang ulat sagu.
            Ulat sagu merupakan larva dari kumbang merah kelapa atau Rhynchophorus Ferruginenus. Binatang ini biasanya ada didalam batang sagu yang sudah membusuk. Ulat sagu ini merupakan salah satu santapan sehari-hari masyarakat Kamoro, Papua. Masyarakat Kamoro biasa menyebut ulat sagu dengan sebutan ‘koo’. Biasanya ulat sagu ini dimakan dengan sagu. Jadi biasanya masyarakat Kamoro mencari sagu sambil mencari ulat yang terdapat didalam batang sagu.
            Banyak cara yang dilakukan masyarakat Kamoro untuk menyantap ulat sagu, seperti dibakar, dimasukkan kedalam sagu (sebagai isi), digoreng, dll. Namun masyarakat Kamoro juga banyak yang memakannya secara hidup-hidup (mentah).
            Orang Kamoro meyakini ulat sagu mengandung banyak vitamin. Semakin banyak menyantap ulat sagu, akan semakin sehat. Keyakinan masyarakat Kamoro ini memang tidak salah, karena berdasar penelitian, ulat sagu merupakan lauk bergizi yang bebas kolesterol. Kandungan protein ulat sagu sekitar 9.34%. Ulat ini juga mengandung beberapa asam amino esensial, seperti asam aspartat (1.84%), asam glutamat (2.72%), tirosin (1.87%), lisin (1.97%) dan methionin (1.07%).
            Dari beberapa orang yang pernah menyantap ulat sagu, mereka berpendapat bahwa ketika ulat sagu digigit, tubuh ukat sagu akan melumer dan meninggalkan rasa gurih seperti santan di lidah, sedangkan kepalanya krispy.
            Penasaran bagaimana rasa ulat sagu? Silahkan coba sendiri....

Sumber: Ensiklopedi Binatang Penyembuh oleh Astrid D Hadi

Papeda “Lem” yang Enak Dimakan


            Siapa yang tahu papeda? Papeda bukan merupakan hasil inovasi dari sepeda, namun papeda merupakan makanan khas masyarakat timur, khususnya Papua.
            Mungkin sebagian dari kita masih sangat lazim dengan kata papeda karena makanan ini hanya ada di Papua. Namun saat ini sudah banyak acara televisi yang menayangkan kebudayaan Papua termasuk makanannya yaitu papeda.
            Tidak seperti masyarakat Pulau Jawa yang makanan pokoknya beras (nasi), makanan pokok masyarakat Papua adalah sagu yang diolah menjadi papeda.  Papeda bertekstur lengket seperti lem dan memiliki rasa tawar (hambar).
            Di tanah Cendrawasih tersebut, memang cukup banyak tumbuh pohon sagu. Sejenis pohon kelapa ini banyak tumbuh di dataran rendah dan berair atau tanah yang basah. Jadi cukup wajar bila sagu menjadi makanan pokok masyarakat Papua. Tanaman sagu memiliki banyak manfaat. Manfaat sagu diantaranya yaitu sebagai sumber karbohidrat yang digunakan untuk mengganti beras, dapat mengatasi pengerasan pada pembuluh darah, mengatasi sakit pada ulu hati serta membantu mengatasi perut kembung. Selain itu penganan yang berasal dari sari pati umbian ini juga bermanfaat untuk menekan kecepatan kadar glukosa dalam darah sehingga bagi mereka yang menderita diabetes melitus sangat aman mengkonsumsinya. Serat yang terdapat didalamnya berperan untuk pre-biotik, menjaga mikroflora usus, meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi resiko terjadinya kanker usus, mengurangi resiko terjadinya kanker paru-paru, mengurangi kegemukan atau obesitas serta memperlancar BAB (Buang Air Besar).
            Adapun kandungan zat yang terdapat pada bahan makanan ini ialah 94 gram karbohidrat, memiliki 355 kalori untuk setiap 100gram nya, 0,2 gram protein, 0,5 gram serat, 10 mg kalsium, 1,2 mg besi, lemak, karoten, serta asam askorbat dalam jumlah yang kecil.  Jadi mengkonsumsi sagu dapat membuat tubuh menjadi seimbang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Papeda yang terbuat dari sagu ternyata berkarbohidrat tinggi dan sangat bernutrisi bagi tubuh.
            Papeda sering disajikan masyarakat Provinsi Papua pada acara-acara adat, acara keluarga, lomba masak daerah, dan berbagai acara laiinnya. Biasanya masyarakat Papua menyantap papeda bersama menu ikan kuah kuning, ikan yang biasa digunakan adalah ikan tongkol dan sayur tumis kangkung campur daun pepaya.
            Makanan berbahan dasar sagu tak hanya ada di Papua, namun ada  daerah di Sulawesi Selatan  yaitu daerah Luwu (Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur) yang mengenal Papeda dengan nama “Kapurung”. Meskipun memiliki bahan dasar yang sama, namun penyajian papeda dan kapurung berbeda.
Tak hanya rasa papeda yang unik , namun cara penyajian papeda juga terbilang unik berbeda dari makanan pada umumnya. Banyak orang yang tidak biasa, mungkin berpikir untuk menggunakan sendok. Memang tidak ada yang malarang, namun bagi penduduk asli papua tidak akan menggunakan cara tersebut. Sebab papeda yang siap disantap akan ia “disedot” perlahan-lahan dari ujung (pinggir) piring, sambil meminum kuah ikan kuning. Aneh ya ? Tapi itulah cara ‘unik’ mereka menyantapnya. Menikmati papeda lebih nikmat dalam keadaan hangat, bila sudah dingin rasa papeda sudah tidak lembek dan kenyal lagi.
Mulai membayangkan bagaimana nikmatnya papeda ya?

Sabtu, 20 April 2013

Kondisi pemakaian bahasa daerah di Indonesia sekarang ini


    Di zaman modern seperti ini, orang Indonesia mengenal 3 bahasa, yaitu bahasa asing, bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Penggunaan bahasa asing (khususnya bahasa inggris) sangat dibutuhkan, jadi tak sedikit orang tua yang memperkenalkan bahasa asing kepada anak-anaknya dari usia dini. Para orang tua lebih mementingkan anaknya fasih dalam bahasa asing daripada bahasa daerah, karena banyak yang menganggap bahasa daerah sudah ketinggalan jaman.
    Di lingkungan sekolah, pengajaran bahasa asing juga sudah diadakan sejak taman kanak-kanak, sedangkan bahasa daerah?. Pengajaran bahasa daerah sepertinya dianggap sebelah mata manfaatnya. Memang bahasa kesatuan Indonesia itu adalah Bahasa Indonesia seperti yang telah di tetapkan pada sumpah pemuda, namun bahasa daerah merupakan salah satu kebudayaan Indonesia yang harus kita lestarikan.
    Bahasa asing, bahasa Indonesia dan bahasa daerah memiliki manfaat yang berbeda-beda. Bahasa asing berguna untuk persaingan, karena era globalisasi seperti ini sangat dibutuhkan individu yang menguasai bahasa asing. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai sebagai bahasa resmi kenegaraan, sebagai bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan, dan sebagai bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan.
    Dan bahasa daerah tak kalah memiliki fungsi yang tak kalah penting, yaitu sebagai alat komunikasi intraetnis, sarana menunjukkan keakraban, sarana menunjukkan identitas daerah dan kebanggaan daerah. Dengan fungsi-fungsi itu, diharapkan bahasa daerah dipakai secara murni dalam ranah keluarga, ketetanggaan dan kekariban (antaranggota etnis yang sama), ranah adat, dan ranah agama. Namun, kenyataan yang ada ialah pemakaian bahasa daerah telah terkontaminasi oleh pemakaian unsur-unsur bahasa Indonesia dan mengalami pergeseran
    Saat ini banyak orang yang apabila ditanya dari suku mana? Mereka menjawab (salah satu suku di Indonesia), dan ketika ditanya lagi apakah bisa bahasa daerahnya? Banyak yang menjawab tidak.
    Orang-orang dari daerah-daerah di Indonesia saja tidak dapat berbahasa daerahnya, mereka lebih fasih dalam penggunaan bahasa gaul karena mereka menganggap bahasa saat ini bahasa daerah sudah katro dan lebih gaul apabila menggunakan bahasa gaul.

Faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa seseorang dalam kehidupan sehari-hari

    Salah satu faktor yang paling mempengaruhi seseorang dalam penggunaan bahasa sehari hari yaitu faktor lingkungan. Lingkungan mencakup lingkungan keluarga, lingkungan sekitar tempat tinggal, lingkungan sekolah, dll. Pengaruh lingkungan sangat berpengaruh terhadap kebiasaan seseorang menggunakan bahasa sehari harinya.
    Misalkan si A orang tuanya menggunakan bahasa jawa dalam percakapan sehari-harinya dirumah, maka si A pun akan menggunakan bahasa jawa pula dalam percakapan dirumah. Sedangkan si B yang asli orang Yogyakarta, namun lingkungan sekitar menggunakan bahasa betawi, maka si B pun akan terbawa mengikuti bahasa betawi pula. Dan si C yang kedua orang tuanya orang Tegal, tetapi disekolah dia selalu diejek ketika menggunakan bahasa Tegal karena teman-temannya menggunakan bahasa Indonesia, maka si C pun akan merubah bahasanya menjadi bahasa Indonesia.
    Secara garis besar, faktor lingkungan keluarga lah yang besar pengaruhnya terhadap penggunaan bahasa seseorang. Tak sedikit orang tua yang menerapkan pemakaian bahasa inggris dirumah dengan harapan agar anaknya fasih dalam penggunaan bahasa inggris

Minggu, 24 Juni 2012

Jakarta ke- 485


Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat uulang tahuuuun, selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun buat Kota Jakarta yang ke 485, semoga Jakarta semakin lebih baik lagi (amin), semoga di Jakarta engga ada macet (amin), semoga Jakarta engga suka banjir lagi (amin), pokoknya Jakarta lebih indah deh.

Ya walaupun saya bukan tinggal di Jakarta, tapi Jakarta udah jadi bagian dari aktifitas sehari2. Kasarnya kepeleset ajah udah nyampe Jakarta (hahah lebay itu mah). Banyak fasilitas Jakarta yang saya rasakan, dari mulai tempat2 yang ada di Jakarta, baik sekolah, tempat rekreasi, tempat belanja, tempat main, pokonya banyak dah. Terus angkutan Jakarta kaya busway, kopaja, metro. Sampe banjirnya saya pernah rasain klo musim ujan.

Pernah pas waktu pemilihan Gubernur Jakarta tahun 2008 (kalo engga salah), stiker Fauzi Bowo ada di tembok depan, padahal ga akan milih Fauzi Bowo (org bukan kawasan Jakarta hahaha). Pernah juga ada yang nanya, “siapa Walikota Depok?”. Dan saya jawab “meneketehe”. Coba kalo ditanya “siapa Gubernur Jakarta?” pasti pada tau “Bapak Fauzi Bowo” (atau pada tau mungkin karena sering disorot kamera kali yah).

Jakarta itu kota sejuta umat. Ya gemana engga sejuta umat, kalo misalkan musim mudik yang pulang ke kampung halaman 1 orang, balik ke Jakarta bisa 3 orangan. Semua daerah di seluruh nusantara punya wakilnya di Jakarta, dari sabang sampe merauke ada di Jakarta. Kalo buat ibu2 hamil, misalkan ngidam pengen ketemu orang ambon, engga usah ke ambon di Jakarta juga udah ada, kalo mau liat orang flores, gau usah buang2 duit terbang ke NTT, di Jakarta juga udah tersedia ( hehehe).

Jakarta juga memiliki masalah, baik masalah kemacetan, masalah trasportasi, sampe masalah tahunan yaitu banjir (eh setahun bisa beberapa kali banjir deh),dll.

Kemacetan di Jakarta setiap hari pasti terjadi, kecuali hari raya, libur panjang akhir pekan. Itu di daerah2 tertentu agak lenggang, tapi kalo udah masuk hari kerja beh Jakarta udah kaya dealer terbuka. Dimana2 mobil, dimana2 motor padat parah deh, pusing ngeliatnya (apalagi kalo kejebak macet, bawaannya pengen gepengin tuh mobil semua)


Transportasi di Jakarta juga masih kurang (menurut saya) apalagi keamanan untuk kaum hawa. Banyak terjadi pelecehan2 di angkutan umum (Iyuuh banget tuh orang ga punya otak di angkutan umum). Ada juga halte busway (di derah mana gitu) yang kacanya pada dicolongin, engga ada atapnya, engga ada lantainya. Terus halte2 umum lainnya juga kaga ada atapnya, klo neduh ya sama ajah, ujan ke ujanan, panas ke panasan.

Setiap musim banjir, orang di pinggiran kali atau daerah rawan banjir harus sudah membereskan harta mereka biar engga kerendem air. Ada situasi di kelas yang masih saya inget, percakapan orang Jakarta dan orang Bogor.

Orang Jakarta “aduuh banjir lagi, banjir lagi. gemana sih nih orang bogor”

Orang Bogor “ kok nyalahin orang Bogor?”

Orang Jakarta “ ya iyalah nyalahin orang Bogor, kan banjir kiriman dari Bogor. Masa gua harus nyalahin orang tua gua, nyalahin nenek gua, nyalahin kakek gua, nyalahin sodara2 gua yang tinggal di Jakarta”

Orang Bogor “ eh orang Jakarta seharusnya pada mikir yah, sekarang siapa yang liburan pergi kepuncak? Orang Jakarta kan. Siapa yang buang sampah sembarangan kalo liburan? Orang Jakarta kan. Makanya nanggung sendiri tuh akibat perbuatan orang Jakarta”

Oh iya ya bener juga, salah orang Jakarta sendiri yang masa bodo sama lingkungan, akhirnya nanggung resikonya ( walaupun engga semua orang Jakarta kaya gitu, masih banyak juga yang peduli lingkungan).

Saya berharap di usia Jakarta yang sekarang ini, Jakarta akan semakin lebih baik lagi. apa lagi kan sekarang Jakarta mau pemilihan Gubernur. Siapapun pemimpin Jakarta nanti, baik no. 1, 2, 3, 4, 5, atau 6 semoga mereka bisa memberikan yang terbaik untuk Jakarta dan untuk para penghuni Jakarta.

(maaf jika ada kata2 yang salah)