Tampilkan postingan dengan label tentang Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang Indonesia. Tampilkan semua postingan
Jumat, 07 Juni 2013
Ditulisan sebelumnya, saya sedikit membahas tentang Papeda. Masakan Khas Provinsi Papua ini memang sangat jarang kita temui di daerah luar seperti Jakarta bahkan tidak ada. Bagi yang ingin menikmati makanan unik ini jangan berkecil hati, kita tidak harus terbang ke Papua untuk menikmatinya, kita dapat membuatnya sendiri di rumah. Ya memang sensasi rasanya tidak senikmat di tempat aslinya...
Berikut ini saya akan memberikan resep Papeda serta Ikan Kuah Kuning yang saya dapat dari blog orang. hehehe......
Papeda
Bahan membuat papeda :
Bahan :
sumber : http://resepmasaktradisional.blogspot.com/2012/11/Cara-Membuat-Papeda.html
Berikut ini saya akan memberikan resep Papeda serta Ikan Kuah Kuning yang saya dapat dari blog orang. hehehe......
Papeda
Bahan membuat papeda :
- 100 gr tepung sagu
- 1000 cc air
- 1/2 sdt garam
- 1/2 sdt gula
- Cairkan tepung sagu dengan 300 ml air
- Tambahkan garam dan gula
- Didihkan sisa air
- Tuang air yang sudah mendidih ke dalam larutan tepung sagu, aduk perlahan sehingga sagu matang merata
- Papeda dikatakan sudah matang jika sudah berwarna bening jika masih belum merata matangnya adonan bisa dimasak di atas api kecil sambil terus diaduk
- Jika sudah bening angkat dan sajikan hangat.
Bahan :
- 1/2 kg ikan tongkol, bersihkan dan rendam dengan jeruk nipis dan garam
- 1 buah jeruk nipis, peras
- kemangi, siangi
- cabe rawit hijau, buang batangnya
- 2 sdm minyak untuk menumis
- 1 batang sereh, memarkan
- 2 lembar daun salam
- 600 ml air matang
- 2 siung bawang putih
- 4 buah bawang merah
- 3 buah kemiri
- 2 cm jahe
- 2 cm kunyit
- 1 sdm gula pasir
- 1 sdt sdm garam
- Tumis bumbu yang sudah dihaluskan beserta sereh dan salam hingga harum dan matang
- Tambahkan air matang, masak hingga mendidih
- Masukkan ikan, garam, gula dan cabe rawit, masak hingga ikan matang
- Sesaat sebelum masakan diangkat, tambahkan daun kemangi dan jeruk nipis, aduk rata
- Sajikan sebagai pelengkap papeda
sumber : http://resepmasaktradisional.blogspot.com/2012/11/Cara-Membuat-Papeda.html
Kamis, 06 Juni 2013
Ulat merupakan salah satu binatang yang
menjijikkan untuk sebagian besar orang. Ketika kata “ulat” disebutkan, pasti
yang terbayang adalah binatang kecil yang berjalan dengan memelarkan dan
menarik badannya. Walaupun ulat ada dalam lagu dan sering dinyanyikan (telur
telur, ulat ulat, kepompong, kupu-kupu, kasian deh lu...), namun tak sedikit
orang yang menghindari ulat. Ulat yang sering kita kenal yaitu ulat bulu yang
amat dihindari karena menyebabkan gatal-gatal, ulat sagu yang popular di daerah
timur, dll. Kali ini saya akan sedikit membahas tentang ulat sagu.
Ulat sagu merupakan larva dari
kumbang merah kelapa atau Rhynchophorus Ferruginenus. Binatang ini biasanya ada
didalam batang sagu yang sudah membusuk. Ulat sagu ini merupakan salah satu
santapan sehari-hari masyarakat Kamoro, Papua. Masyarakat Kamoro biasa menyebut
ulat sagu dengan sebutan ‘koo’. Biasanya ulat sagu ini dimakan dengan sagu.
Jadi biasanya masyarakat Kamoro mencari sagu sambil mencari ulat yang terdapat
didalam batang sagu.
Banyak cara yang dilakukan
masyarakat Kamoro untuk menyantap ulat sagu, seperti dibakar, dimasukkan
kedalam sagu (sebagai isi), digoreng, dll. Namun masyarakat Kamoro juga banyak
yang memakannya secara hidup-hidup (mentah).
Orang Kamoro meyakini ulat sagu mengandung
banyak vitamin. Semakin banyak menyantap ulat sagu, akan semakin sehat.
Keyakinan masyarakat Kamoro ini memang tidak salah, karena berdasar penelitian,
ulat sagu merupakan lauk bergizi yang bebas kolesterol. Kandungan protein ulat
sagu sekitar 9.34%. Ulat ini juga mengandung beberapa asam amino esensial,
seperti asam aspartat (1.84%), asam glutamat (2.72%), tirosin (1.87%), lisin
(1.97%) dan methionin (1.07%).
Dari beberapa orang yang pernah
menyantap ulat sagu, mereka berpendapat bahwa ketika ulat sagu digigit, tubuh
ukat sagu akan melumer dan meninggalkan rasa gurih seperti santan di lidah, sedangkan
kepalanya krispy.
Penasaran bagaimana rasa ulat sagu?
Silahkan coba sendiri....
Sumber:
Ensiklopedi Binatang Penyembuh oleh Astrid D Hadi
Siapa yang
tahu papeda? Papeda bukan merupakan hasil inovasi dari sepeda, namun papeda
merupakan makanan khas masyarakat timur, khususnya Papua.
Mungkin sebagian dari kita masih
sangat lazim dengan kata papeda karena makanan ini hanya ada di Papua. Namun saat
ini sudah banyak acara televisi yang menayangkan kebudayaan Papua termasuk
makanannya yaitu papeda.
Tidak seperti masyarakat Pulau Jawa
yang makanan pokoknya beras (nasi), makanan pokok masyarakat Papua adalah sagu
yang diolah menjadi papeda. Papeda bertekstur
lengket seperti lem dan memiliki rasa tawar (hambar).
Di tanah Cendrawasih tersebut, memang
cukup banyak tumbuh pohon sagu. Sejenis pohon kelapa ini banyak tumbuh di
dataran rendah dan berair atau tanah yang basah. Jadi cukup wajar bila sagu
menjadi makanan pokok masyarakat Papua. Tanaman sagu memiliki banyak manfaat.
Manfaat sagu diantaranya yaitu sebagai sumber karbohidrat yang digunakan untuk
mengganti beras, dapat mengatasi pengerasan pada pembuluh darah, mengatasi
sakit pada ulu hati serta membantu mengatasi perut kembung. Selain itu penganan
yang berasal dari sari pati umbian ini juga bermanfaat untuk menekan kecepatan
kadar glukosa dalam darah sehingga bagi mereka yang menderita diabetes melitus
sangat aman mengkonsumsinya. Serat yang terdapat didalamnya berperan untuk
pre-biotik, menjaga mikroflora usus, meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi
resiko terjadinya kanker usus, mengurangi resiko terjadinya kanker paru-paru,
mengurangi kegemukan atau obesitas serta memperlancar BAB (Buang Air Besar).
Adapun kandungan zat yang terdapat
pada bahan makanan ini ialah 94 gram karbohidrat, memiliki 355 kalori untuk
setiap 100gram nya, 0,2 gram protein, 0,5 gram serat, 10 mg kalsium, 1,2 mg
besi, lemak, karoten, serta asam askorbat dalam jumlah yang kecil. Jadi mengkonsumsi sagu dapat membuat tubuh
menjadi seimbang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Papeda yang terbuat dari
sagu ternyata berkarbohidrat tinggi dan sangat bernutrisi bagi tubuh.
Papeda sering disajikan masyarakat
Provinsi Papua pada acara-acara adat, acara keluarga, lomba masak daerah, dan
berbagai acara laiinnya. Biasanya masyarakat Papua menyantap papeda bersama
menu ikan kuah kuning, ikan yang biasa digunakan adalah ikan tongkol dan sayur
tumis kangkung campur daun pepaya.
Makanan berbahan dasar sagu tak
hanya ada di Papua, namun ada daerah di
Sulawesi Selatan yaitu daerah Luwu (Kota
Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur) yang mengenal Papeda dengan
nama “Kapurung”. Meskipun memiliki bahan dasar yang sama, namun penyajian
papeda dan kapurung berbeda.
Tak hanya rasa papeda yang unik , namun cara penyajian papeda
juga terbilang unik berbeda dari makanan pada umumnya. Banyak orang yang tidak
biasa, mungkin berpikir untuk menggunakan sendok. Memang tidak ada yang
malarang, namun bagi penduduk asli papua tidak akan menggunakan cara tersebut.
Sebab papeda yang siap disantap akan ia “disedot” perlahan-lahan dari ujung
(pinggir) piring, sambil meminum kuah ikan kuning. Aneh ya ? Tapi itulah cara
‘unik’ mereka menyantapnya. Menikmati papeda lebih nikmat dalam keadaan hangat,
bila sudah dingin rasa papeda sudah tidak lembek dan kenyal lagi.
Mulai membayangkan bagaimana nikmatnya papeda ya?
Sabtu, 20 April 2013
Di zaman modern seperti ini, orang Indonesia mengenal 3
bahasa, yaitu bahasa asing, bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Penggunaan
bahasa asing (khususnya bahasa inggris) sangat dibutuhkan, jadi tak sedikit
orang tua yang memperkenalkan bahasa asing kepada anak-anaknya dari usia dini.
Para orang tua lebih mementingkan anaknya fasih dalam bahasa asing daripada
bahasa daerah, karena banyak yang menganggap bahasa daerah sudah ketinggalan
jaman.
Di lingkungan sekolah, pengajaran bahasa asing juga sudah
diadakan sejak taman kanak-kanak, sedangkan bahasa daerah?. Pengajaran bahasa
daerah sepertinya dianggap sebelah mata manfaatnya. Memang bahasa kesatuan
Indonesia itu adalah Bahasa Indonesia seperti yang telah di tetapkan pada
sumpah pemuda, namun bahasa daerah merupakan salah satu kebudayaan Indonesia
yang harus kita lestarikan.
Bahasa asing, bahasa Indonesia dan bahasa daerah memiliki
manfaat yang berbeda-beda. Bahasa asing berguna untuk persaingan, karena era
globalisasi seperti ini sangat dibutuhkan individu yang menguasai bahasa asing.
Bahasa Indonesia berfungsi sebagai sebagai bahasa resmi kenegaraan, sebagai
bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan, dan sebagai bahasa
pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan.
Dan bahasa daerah tak kalah memiliki fungsi yang tak kalah
penting, yaitu sebagai alat komunikasi intraetnis, sarana menunjukkan
keakraban, sarana menunjukkan identitas daerah dan kebanggaan daerah. Dengan
fungsi-fungsi itu, diharapkan bahasa daerah dipakai secara murni dalam ranah
keluarga, ketetanggaan dan kekariban (antaranggota etnis yang sama), ranah
adat, dan ranah agama. Namun, kenyataan yang ada ialah pemakaian bahasa daerah
telah terkontaminasi oleh pemakaian unsur-unsur bahasa Indonesia dan mengalami
pergeseran
Saat ini banyak orang yang apabila ditanya dari suku mana?
Mereka menjawab (salah satu suku di Indonesia), dan ketika ditanya lagi apakah
bisa bahasa daerahnya? Banyak yang menjawab tidak.
Orang-orang dari daerah-daerah di Indonesia saja tidak dapat berbahasa
daerahnya, mereka lebih fasih dalam penggunaan bahasa gaul karena mereka
menganggap bahasa saat ini bahasa daerah sudah katro dan lebih gaul apabila
menggunakan bahasa gaul.
Salah satu faktor yang paling mempengaruhi seseorang dalam penggunaan
bahasa sehari hari yaitu faktor lingkungan. Lingkungan mencakup lingkungan
keluarga, lingkungan sekitar tempat tinggal, lingkungan sekolah, dll. Pengaruh
lingkungan sangat berpengaruh terhadap kebiasaan seseorang menggunakan bahasa
sehari harinya.
Misalkan si A orang tuanya menggunakan bahasa jawa dalam
percakapan sehari-harinya dirumah, maka si A pun akan menggunakan bahasa jawa
pula dalam percakapan dirumah. Sedangkan si B yang asli orang Yogyakarta, namun
lingkungan sekitar menggunakan bahasa betawi, maka si B pun akan terbawa
mengikuti bahasa betawi pula. Dan si C yang kedua orang tuanya orang Tegal,
tetapi disekolah dia selalu diejek ketika menggunakan bahasa Tegal karena
teman-temannya menggunakan bahasa Indonesia, maka si C pun akan merubah
bahasanya menjadi bahasa Indonesia.
Secara garis besar, faktor lingkungan keluarga lah yang besar pengaruhnya
terhadap penggunaan bahasa seseorang. Tak sedikit orang tua yang menerapkan
pemakaian bahasa inggris dirumah dengan harapan agar anaknya fasih dalam
penggunaan bahasa inggris
Minggu, 24 Juni 2012
Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat uulang tahuuuun,
selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun buat Kota Jakarta yang ke 485, semoga
Jakarta semakin lebih baik lagi (amin), semoga di Jakarta engga ada macet
(amin), semoga Jakarta engga suka banjir lagi (amin), pokoknya Jakarta lebih
indah deh.
Ya walaupun saya bukan tinggal di Jakarta, tapi Jakarta udah jadi bagian
dari aktifitas sehari2. Kasarnya kepeleset ajah udah nyampe Jakarta (hahah
lebay itu mah). Banyak fasilitas Jakarta yang saya rasakan, dari mulai tempat2
yang ada di Jakarta, baik sekolah, tempat rekreasi, tempat belanja, tempat
main, pokonya banyak dah. Terus angkutan Jakarta kaya busway, kopaja, metro. Sampe
banjirnya saya pernah rasain klo musim ujan.
Pernah pas waktu pemilihan Gubernur Jakarta tahun 2008 (kalo engga
salah), stiker Fauzi Bowo ada di tembok depan, padahal ga akan milih Fauzi Bowo
(org bukan kawasan Jakarta hahaha). Pernah juga ada yang nanya, “siapa Walikota
Depok?”. Dan saya jawab “meneketehe”. Coba kalo ditanya “siapa Gubernur Jakarta?”
pasti pada tau “Bapak Fauzi Bowo” (atau pada tau mungkin karena sering disorot
kamera kali yah).
Jakarta itu kota sejuta umat. Ya gemana engga sejuta umat, kalo misalkan
musim mudik yang pulang ke kampung halaman 1 orang, balik ke Jakarta bisa 3
orangan. Semua daerah di seluruh nusantara punya wakilnya di Jakarta, dari
sabang sampe merauke ada di Jakarta. Kalo buat ibu2 hamil, misalkan ngidam
pengen ketemu orang ambon, engga usah ke ambon di Jakarta juga udah ada, kalo
mau liat orang flores, gau usah buang2 duit terbang ke NTT, di Jakarta juga
udah tersedia ( hehehe).
Jakarta juga memiliki masalah, baik masalah kemacetan, masalah
trasportasi, sampe masalah tahunan yaitu banjir (eh setahun bisa beberapa kali
banjir deh),dll.
Kemacetan di Jakarta setiap hari pasti terjadi, kecuali hari raya, libur
panjang akhir pekan. Itu di daerah2 tertentu agak lenggang, tapi kalo udah
masuk hari kerja beh Jakarta udah kaya dealer terbuka. Dimana2 mobil, dimana2
motor padat parah deh, pusing ngeliatnya (apalagi kalo kejebak macet, bawaannya
pengen gepengin tuh mobil semua)
Transportasi di Jakarta juga masih kurang (menurut saya) apalagi
keamanan untuk kaum hawa. Banyak terjadi pelecehan2 di angkutan umum (Iyuuh banget
tuh orang ga punya otak di angkutan umum). Ada juga halte busway (di derah mana
gitu) yang kacanya pada dicolongin, engga ada atapnya, engga ada lantainya. Terus
halte2 umum lainnya juga kaga ada atapnya, klo neduh ya sama ajah, ujan ke
ujanan, panas ke panasan.
Setiap musim banjir, orang di pinggiran kali atau daerah rawan banjir
harus sudah membereskan harta mereka biar engga kerendem air. Ada situasi di
kelas yang masih saya inget, percakapan orang Jakarta dan orang Bogor.
Orang Jakarta “aduuh banjir lagi, banjir lagi. gemana sih nih orang
bogor”
Orang Bogor “ kok nyalahin orang Bogor?”
Orang Jakarta “ ya iyalah nyalahin orang Bogor, kan
banjir kiriman dari Bogor. Masa gua harus nyalahin orang tua gua, nyalahin
nenek gua, nyalahin kakek gua, nyalahin sodara2 gua yang tinggal di Jakarta”
Orang Bogor “ eh orang Jakarta seharusnya pada
mikir yah, sekarang siapa yang liburan pergi kepuncak? Orang Jakarta kan. Siapa
yang buang sampah sembarangan kalo liburan? Orang Jakarta kan. Makanya nanggung
sendiri tuh akibat perbuatan orang Jakarta”
Oh iya ya bener juga, salah orang Jakarta sendiri yang masa bodo sama
lingkungan, akhirnya nanggung resikonya ( walaupun engga semua orang Jakarta kaya
gitu, masih banyak juga yang peduli lingkungan).
Saya berharap di usia Jakarta yang sekarang ini, Jakarta akan semakin
lebih baik lagi. apa lagi kan sekarang Jakarta mau pemilihan Gubernur. Siapapun
pemimpin Jakarta nanti, baik no. 1, 2, 3, 4, 5, atau 6 semoga mereka bisa
memberikan yang terbaik untuk Jakarta dan untuk para penghuni Jakarta.
(maaf jika ada kata2 yang salah)
Langganan:
Postingan (Atom)



