Tampilkan postingan dengan label buatan saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buatan saya. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 Januari 2014
Ketika disuruh menceritakan
diri sendiri, pasti bingung harus mulai dari mana, apa yang harus diceritakan,
dll. Tetapi ketika disuruh menceritakan orang lain, langsung sejuta kata siap
diluncurkan. Oke sekarang kita mulai.
Nama saya Nurul Hasanah,
nama asli pemberian orang tua tanpa diganti-ganti, ditambahin ataupun
dikurangi,. Menurut yang saya tau dan dari orang-orang juga, “Nurul Hasanah”
itu artinya cahaya kebaikan. Dengan
memberi nama itu, kedua orang tua saya berharap anaknya kelak menjadi seseorang
yang berbudi pekerti baik, membawa kebaikan, bersikap baik, pokoknya baik-baik
deh. Aamiin.
Tanggal kelahiran saya
sama dengan tanggal dimana biasanya Bangsa Indonesia memperingati Hari Pramuka
(asik). Pasti pada tau dong, jangan ngaku anak Indonesia kalo tidak tau hari
Pramuka. Ya tepat ! 14 Agustus. Setiap tahun saya merasa bangga karena hari
kelahiran saya dirayakan oleh banyak orang, padahal sebenarnya mereka merayakan
Hari Pramuka hahaha.
Saya tinggal dirumah yang
saya tempati sekarang bersama kedua orang tua dan 2 adik. Dari lahir sampai
saat ini saya belum pernah pindah rumah, jadi belum pernah merasakan bagaimana capeknya pindahan, mengangkuti
barang-barang, bersosialisasi dengan lingkungan baru, dll. Tapi InsyaAllah suatu hari nanti saya akan
merasakan itu, ketika saya pindah ke istana masa depan saya bersama imam saya
kelak (hahahah Aamiin). Oke next
Biasanya pendidikan
anak-anak itu dimulai dari Taman Kanak-kanak (TK), malahan zaman sekarang
dimulai dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), tetapi saya langsung SD (Sekolah
Dasar). Bukan SD tetapi tepatnya MI (Madrasah Ibtidaiyah), setara dengan SD
namun lebih menitikberatkan dalam ilmu agama islam. Kalau di SD pelajaran agama
hanya satu, semua ilmu agama digabung dalam satu mata pelajaran. Namun kalau di
MI ilmu agama dipisah-pisah ada Al-Qur’an Hadist, Aqidah Akhlak, Fiqih, Sejarah
Islam, Tahfiz Qur’an, Bahasa Arab, dll, jadi setiap hari pasti belajar agama
islam.
Berkeinginan menjadikan
anaknya menjadi hamba yang taqwa dan shalihah, orang tua saya juga memasukkan
saya ke pengajian anak-anak. Tapi memang pada dasar pribadinya yang bandel dan
tidak taat, buktinya shalat saya masih entar-entaran, perbuatan masih buruk,
penyakit hati numpuk dan masih banyak lagi yang lain. Itu semua terjadi bukan
karena kesalahan kedua orang tua saya, bukan kesalahan sekolah MI saya ataupun
kesalahan guru ngaji saya tapi itu semua salah pribadi saya yang tidak mau
mendengarkan apa yang diajarkan.
Pernah berfikir betapa
ruginya diri ini karena telah lalai dalam shalat, zhalim dalam perbuatan, dll
dan berandai dulu setamat MI melanjutkan ke pesantren agar ilmu agamanya lebih
baik, tetapi sudah terlambat saat itu sudah kelas 3 SMP. Memang tidak ada kata
terlambat untuk belajar, keinginan sekolah di pesantren pun lambat laun menipis
dan saya memutuskan untuk belajar agama dari pengajian-pengajian saja.
Semasa SMP saya cukup
gemar dalam hal menulis, spesifiknya dalam hal menulis cerpen. Kegemaran itu
terbentuk ketika saya diberi tugas oleh guru Bahasa Indonesia untuk mengarang
suatu cerpen. Saya sangat pusing saat itu, jujur saya merupakan orang yang
malas membaca jadi sama sekali tidak mempunyai inspirasi. Akhirnya saya mencoba
membaca sebuah cerpen yang terdapat dalam suatu majalah remaja, dan saya mulai
merasakan kenyamanan ketika membacanya, paragraf demi paragraf saya telusuri
hingga tiba diakhir cerita.
Setelah selesai membaca
cerpen tersebut, seakan akan jutaan kata berterbangan dalam fikiran saya,
mulailah saya membuat sebuah judul cerpen untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia
tersebut. Selesai satu cerpen rampung, saya melanjutkan untuk memulai judul
baru. Ada beberapa cerpen yang pernah saya tulis, ya memang jaklan ceritanya
sangat sederhana tetapi saya merasa cukup senang. Sayangnya, dulu saya menulis
cerpennya dikertas dan sekarang kumpulan kertas itu entah tercecer dimana, atau
mungkin sudah hilang terbuang.
Saya cukup senang membaca
cerpen atau cerbung, namun saya kurang begitu suka membaca novel karena saya
cepat merasa bosan. Belum ada sebuah novelpun yang saya baca taat dari halaman
depan sampai akhir. Pasti ketika saya membaca novel, saya akan melompati
halamannya, mencari cerita yang seru. Beberapa waktu lalu saya meminjam sebuah
novel milik senior di kampus, walaupun saya membacanya sampai akhir ya tetap
saja diawali dengan lompatan dari halaman demi halaman.
Hobi lain saya yaitu
membuat suatu prakarya yang saya lihat baik secara langsung ataupun ditelevisi.
Mama saya sempat geregetan apabila saya sedang libur sekolah, karena saya akan
membuat suatu prakarya yang saya lihat sehingga membuat rumah menjadi
berantakan. Prakarya-prakarya yang saya buat seperti bingkai, lampion,dll, saya
merasa penasaran mereka saja bisa membuat itu semua mengapa saya tidak.
Masa SMA saya habiskan
dengan bermain-main dengan teman di SMA. Pokoknya setiap hari rutinitas hamper sama,
dating kesekolah, bercanda-canda, menjahili teman, belajar, pulang bareng, ya
pokoknya 3 tahun itu saya lalui penuh dengan tertawa.
Tetapi bukan berarti
sekarang saya sudah berhenti tertawa, hanya frekuensinya yang berkurang. Apalagi
ketika semester 1 dan 2, saya merasa tidak menemukan teman yang “sejenis”
dengan saya, yang sejalan pemikirannya sehingga kurang nyambung ketika bercanda
dan sebagainya.
Naik ke tingkat 2, disini
saya menemukan teman-teman yang sejenis dan sejalan dengan saya, ngakak bareng-bareng,
engga jaim-jaiman, bisa diajak ngelakuin hal-hal aneh, dll. Pokoknya saya
merasa cukup nyaman dengan teman-teman saya yang sekarang.
Saya juga Alhamdulillah
lolos sebagai assisten di suatu lab di Gunadarma. Alasan saya mendaftar di lab
tersebut karena saya ingin belajar berorganisasi. Selama mengenyam pendidikan
di Gunadarma, saya merupakan salah satu mahasiswi kupu-kupu (kuliah pulang-
kuliah pulang), tidak mengikuti UKM, club atau yang lainnya, pokoknya pasif
banget.
Saya merupakan orang yang
keras, bahkan kasar. Emosi saya sangat sulit dikontrol, sekarang saya bersikap
seperti ini, beberapa saat kemudian sikap saya bisa berubah. Kalau dirumah saya
termasuk orang yang temperamental, apalagi sama kedua adik saya itu.
Saya juga merupakan jenis
orang yang sulit menerima perubahan, contohnya biasanya seseorang bersikap “A”
kepada saya dan khusus kepada saya, tetapi sekarang dia juga bersikap “A”
kepada yang lain dan sikapnya kepada saya jadi berubah, saya kurang bisa
menerima perubahan itu. Entah saya termasuk jenis orang egois atau apa, ya
begitulah saya.
Ditahun 2014 ini saya
memiliki resolusi yaitu menjadi orang yang lebih penyabar, engga kasar, lebih
lembut, menjadi orang yang selalu berfikir positif dan bermanfaat untuk orang
lain. Aamiin. Semoga keinginan saya dapat terwujud.
Begitu lah secara singkat
tentang diri saya, kalau harus diceritakan semuanya terlalu banyak dan tidak
penting juga, hehehe. Tetapi kalau masih penasaran dan mau bertanya-tanya bisa
langsung menemui saya. Hahaha. Terimakasih.
Rabu, 08 Agustus 2012
“Tok tok tok, Assalamualaikum.” bunyi ketukan pintu
diikuti ucapan salam bersuara mungil.
“Waalaikumsalam” sahut Mira dari dapur yang segera
berlari membukakan pintu.
“Eh Alif
udah pulang ngajinya?” lanjutnya pada Alif, adiknya.
“Udah ka” jawab Alif sambil kemudian mencium tangan
Kakaknya, Mira. “Oh iya Kak, kata Bu Ustadzah besok Hari Ibu ya Kak?”.
Lanjutnya penasaran
“Iya, besok tanggal 22 Desember bertepatan dengan Hari
Ibu. Ada memangnya Lif?” Jawab Mira santai sambil membuatkan susu untuk
adiknya.
“Kata Bu Ustadzah, kita harus berbakti pada Ibu,
bantuin Ibu, ga boleh marah-marah sama Ibu, pokoknya lakuin semua yang bikin
hati Ibu seneng”. Katanya bersemangat. ”Tapi
Alif bagaimana Kak? Kan Alif ga punya Ibu?”. Ujarnya polos
Mira segera memeluk adiknya dan berkata “Alif punya
Ibu, sama seperti yang lain. Tapi bedanya, Allah sangat sayang sama Ibu, jadi
Ibu dipanggil Allah untuk berada disisi Allah lebih cepat”. Papar Mira sabar.
“Alif mau tau bagaimana cara Alif berbakti sama Ibu, bikin Ibu senang, bikin
Ibu bangga sama Alif,mau tau ga?”. Lanjutnya
“Iya iya Kak mau tau” jawabnya bersemangat.
“Sekarang Alif tidur dulu, besok baru Kakak kasih tau.
Bagaimana?” tutur Mira sambil mengusap kepala Alif.
Pagi ini tanggal 22 Desember 2011, tepat 5 tahun
setelah kematian Aminah, Ibu Mira dan Alif. Mira pun sudah bersiap siap
mengajak Alif ke Pemakaman Aminah, Ibunda mereka.
“Kita mau kemana Kak??”. Tanya Alif setelah beberapa
saat mereka terdiam.
Mira hanya tersenyum simpul pada anak kecil berusia
enam tahun disampingnya. Kemudian Mira menuntun tangan mungil adiknya menuju
sebuah nisan bertulisan ‘Aminah binti Mahmud’
“Kak, kok namanya Aminah, sama kaya nama Ibu kita ya
ka?” Tanya bocah kecil itu polos.
“Alif. Makam ini memang makam Ibu.” Katanya
menjelaskan sambil membelai lembut rambut adiknya itu.
“Assalamualaikum Bu,hari ini Mira datang bersama Alif.
Sekarang dia sudah besar. Alif juga jadi anak yang pintar di Sekolah.” Katanya
tertahan.”Andai saja Ibu masih bersama kami pasti Ibu bangga.”
“Kak, bagaimana
cara Alif berbakti sama Ibu?”. Pertanyaan itu meluncur dari bibir mungil
Adiknya.
“Karena Ibu sudah meninggal, kita sebagai anak cukup
mendoakan Ibu saja. Setiap selasai Shalat Alif harus selalu mendoakan Ibu agar
mendapat tempat yang baik disisi Allah” jelas Mira
“Oh gitu ya Kak. Kalau begitu kita berdoa untuk Ibu
yuk Kak.” Ajaknya.
Merekapun berdoa diatas pusaran makam Aminah,
Ibunya. Setelah menabur bunga, Mira mengajak Alif untuk pulang. Baru beberapa
langkah mereka berjalan, tiba-tiba Alif berbalik arah dan kembali ke makan
ibunya.
“Oh iya bu, bulan depan Alif ulang tahun. Alif mau
ketemu sama Ibu. Datang ya bu pas Alif ulang tahun. Alif sayang Ibu”. cerita
Alif sambil mencium nisan ibunya.
Pagi ini rutinitas Mira seperti biasanya, membantu
Tante Ani. Beliau adalah Adik Aminah, Ibu mereka. Setelah kematian Aminah,
kehidupan Mira dan Alif pun berubah. Ayah yang seharusnya menjadi kepala keluarga
dan mencari nafkah untuk mereka pergi begitu saja entah kemana. Kini Mira dan
Alif menumpang dengan Tante Ani.
“Mir kamu enggak jemput adikmu di Sekolah, sudah jam
11 tuh.” Ujar Ani mengingatkan Mira
Mirapun segera berpamitan menjemput Alif ke sekolahnya.
Jarak sekolah Alif ke rumah cukup jauh, harus menaiki angkutan umum, Mira tidak
tega adik kecilnya harus naik angkot sendirian.
Tak lama setelah Mira sampai sekolah Alif, bel pun
berbunyi dan Alif keluar dari kelasnya. Namun Mira melihat ada yang lain dari
adiknya itu, wajahnya tampak pucat, terlihat darah yang keluar dari hidungnya. Alif mimisan, Iya Alif mimisan, batinnya
memastikan
“Astaghfirullahal adzim Alif kamu kenapa Dek?”.
Tanyanya panik dan kemudian berteriak minta tolong. “Tolong...... ...tolong.” tak
lama kemudian seorang satpam mendekati dan langsung membawa Alif ke UKS
sesampainya di rumah. Melihat pakaian Alif yang penuh noda darah Ani berkata panik. “kenapa ini Mir?? Koq baju Alif penuh darah begini.”
sesampainya di rumah. Melihat pakaian Alif yang penuh noda darah Ani berkata panik. “kenapa ini Mir?? Koq baju Alif penuh darah begini.”
“Iya Tante, tadi pas pulang sekolah Alif mimisan”
jawab Mira sambil membayar ongkos ojek.” Tapi kata guru Alif, ini karena panas
dalam Tan.” lanjut Mira.
Tante Ani segera membawa Alif masuk ke dalam dan
menggatikan bajunya.
“Apa yang sakit Lif?” Tanya Tante Ani dengan nada
khawatir
“Alif gag apa apa kok Tan.” jawab Alif dengan wajah
letih.
“Yasudah sekarang Alif istirahat ya nak” ajak tante
Ani
“Tapi Alif mau main sama teman-teman
Tan.” sahut Alif
“Nanti ya Nak, setelah bangun tidur Alif baru main, sekarang
Alif istirahat dulu”. Katanya membujuk Alif
“Tante Ani....Kak Mira.” Sebuah suara mengagetkan Mira
dan Tante Ani yang sedang duduk di teras depan
“Ada apa Put? Kok teriak sambil lari-lari begitu?”Tanya
Mira menenangkan.
“Alif Kak ..” jawanya ngos ngosan.”Alif.”
“Ada apa dengan Alif?”
“Alif mimisan dan pingsan di lapangan Kak.”
jawab putri sambil mengatur nafasnya.
“Astagfirullahal adzim”. teriak Mira sambil bangkit
dan berlari kearah Lapangan
Segera Mira membawa Alif pulang ke rumah, membersihkan
darahnya dan menyadarkan Alif dari pingsannya. Tak henti-henti air mata mengalir
di pipinya. Mira sangat khawatir terhadap Alif, apa yang terjadi kepada Adik kecilnya? Mengapa akhir akhir ini Alif sering
sekali mimisan dan pingsan, batinnya.
Akhirnya Tante Ani dan Mira memutuskan untuk
memastikan keadaan Alif.
“Apa yang
terjadi pada keponakan saya Dok?” Tanya Tante Ani
“Apakah ada riwayat kanker di keluarga Ibu?” Tanya Dokter
balik
“Saya kurang tau Dok, memang kenapa Dok apa yang
terjadi pada Alif?” Tante Ani semakin pensaran
Dokter menjelaskan pada Tante Ani bahwa Alif mengidap
Leukimia, Kanker Darah.
“Astagfirullah..” ungkapnya kaget, tak terasa air mata
mulai mengembang di kedua matanya. Cairan bening itu seolah siap keluar.
“Bagaimana bisa Dok??” lanjutnya meminta penjelasan
“Kanker bisa terkena pada siapa saja Bu, apa lagi kalo
ada keturunan, dan sepertinya ada riwayat kanker baik dalam keluarganya Alif”.
Papar Dokter
“Tapi Alif bisa sembuh kan Dok?” sambar Mira sambil
terus memeluk tubuh Alif
“Insya Allah berdoa saja pada Allah, semoga Alif di
beri kesembuhan” sahut Dokter menenangkan
Semenjak saat itu Alif sering sekali mimisan dan
kemudian pingsan. Sekolahnya menjadi terganggu, banyak teman di sekolah yang
tak mau berteman dengan Alif dengan alasan takut tertular katanya.
Tapi untungnya teman rumah tidak menjauhkan Alif,
mereka mengerti atas apa yang dijelaskan Bu Ustadzah tentang penyakit yang Alif
alami. Walaupun umur mereka terbilang masih kecil, namun rasa kesetiakawanan
sudah terlihat jelas pada diri mereka.
Tak mau melihat adik kecilnya menderita sakit yang
berkepanjangan, Mira mencari kesana kemari segala macam pengobatan. Tapi
semuanya membutuhkan biaya yang mahal, Mira tidak mempunyai banyak uang untuk
membayarnya.
“Ya Allah, hamba mohon sembuhkanlah Alif ya
Allah, kasihan anak sekecil itu harus menanggung sakit. Kenapa harus Alif yangf
merasakan sakit itu, kenapa bukan hamba?.” Mira mengadu. “Hamba ikhlas bila
harus menukar tubuh hamba asalkan Alif kembali sehat. Ya Allah sembukan Alif.
Aamiin”. Pintanya selalu dalam setiap do’anya.
“Kak sebentar lagi Alif ulang tahun ka.” Papar Alif
sambil mendekati Mira
“Oh iya ya, Alif mau kado apa dari Kakak? Mobil-mobilan,
robot, atau pesawat?” Tanya Mira
“Enggak Kak, Alif enggak mau kado yang seperti itu,
Alif mau Ibu ka” jawabnya dengan penuh semangat seolah olah tak ada sakit yang
dia rasakan.
“Alif mau Ibu? Maksudnya?” Tanya Mira bingung
“Alif mau ketemu Ibu ka”. Jawabnya singkat
Mira langsung terdiam mendengar permintaan adik
satu-satunya itu.
”Alif berdoa pada Allah semoga Alif bisa melihat Ibu.
Semoga Allah menghadirkan Ibu di mimpi Alif” sahut Mira
Mira bingung atas permintaan adiknya itu, tapi dia
membuang jauh-jauh pikiran negatifnya dan meminta pada Allah semoga Allah
selalu melindingi Alif.
Alif berjalan ke dapur untuk menemui Tante Ani.” Tante,
Alif boleh minta sesuatu ga?” tanya seketika
Tante Ani langsung menunduk melihat kearah Alif. ”Alif
mau apa sayang?”. sambil membelai rambutnya yang sedikit demi sedikit mulai
rontok
“Tante, Alif boleh minta baju koko baru enggak?” sahut
alif dengan wajah sendu
Ani terdiam sejenak
lalu menjawab dengan pasti. “Boleh kok, besok Tante beliin di pasar yah”.
Jawabnya sambil tersenyum, walau hatinya agak sedih melihat kondisi Alif
beberapa minggu terakhir ini.
Wajah Alif terlihar sangat gembira, Ani pun ikut senang
melihat Alif bahagia.
besoknya Ani sudah membelikan permintaan Alif.
besoknya Ani sudah membelikan permintaan Alif.
“Assalamualaikum,
Alif ini Tante bawa pesanan Alif.”. Teriak Ani sambil meletakan semua belanjaan
di depan pintu
Alif langsung berlari dari kamarnya.”Asik.” teriaknya
gembira.”Makasih Tante buat baju kokonya.” Lanjutnya dengan seulas senyum manis
yang menghadirkan lesung pipi.
Kegemebiraan jelas tergambar di wajah Alif, kini. Mira
berharap raut wajah itu selalu yang ia lihat dari adik kecilnya, Alif.
“Kenapa sih Alif minta baju kokoh sama Tante? Kan
kemaren Kak Mira tanya Alif mau apa katanya ga mau apa-apa.” Tanya Mira
Penasaran
“Kan kemaren Alif bilang mau ketemu Ibu, Ibu kan ada
di sisi Allah kan Kak? Berarti Alif mau ketemu Allah juga. Masa ketemu Allah
Alif pake baju yang dulu, udah jelek ka, Alif malu sama Allah baju Alif jelek.
Nanti Allah enggak ngijinin Alif buat ketemu sama Ibu.” Papar Alif dengan wajah
berseri
Penjelasan Alif barusan membuat mereka berdua sontak
kaget. Entah apa yang ada di pikiran Alif sehingga beralasan seperti itu. Alif
pun segera membawa baju koko barunya ke kamar. Dan meninggalkan Mira dan Ani
dalam kegelisahan mendalam.
Air mata mulai membendung di pelupuk mata keduanya.
Mereka bingung apa yang sedang terjadi, mereka tidak tahu apa yang akan
terjadi, semuanya mereka serahkan pada Allah semoga Allah memberi yang terbaik
kepada Alif.
‘gubrak’
terdengar suara
benda jatuh dari dalam rumah, Mira dan Ani langsung berlari kedalam.hanya Alif
yang megusik pikiran meraka. Apa yang
terjadi sama Alif?, batin Mira. Ketika membuka pintu kamar, mereka
memdapati tubuh mungil tergeletak di atas lantai. Alif pingsan.
“Alif…” teriak Ani sangat keras. Dengan bantukan tetangga,
mereka membawa Alif kerumah sakit.
Sekitar 12 jam koma Alif baru sadar.
Sekitar 12 jam koma Alif baru sadar.
“Kak baju baru Alif mana?.” tanyanya langsung setelah
membuka mata
“Ada kok Lif, sekarang Alif istirahat ajah dulu, nanti
kalo udah sembuh kan Alif bisa pakai baju baru.” Jawab Mira lembut dengan nada
tertahan.
“Tante Ani mana Kak?.” Tanya Alif lagi
“Tante Ani pulang dulu kerumah sayang.” Jawab Mira
sambil membelai rambut Alif. ”Oh iya, katanya nanti teman-teman Alif mau dating
jenguk” lanjut Mira
“Kak tolong telponin Tante Ani, Alif minta bawain tas
Alif, baju kokoh baru, foto Ibu, makanan sama susu Alif. Tolong yah Kak.” Pinta
Alif.
“Buat apa emangnya Lif?.” Tanya Mira penasaran
“Kan Alif mau ketemu Allah, mau ketemu Ibu jadi Alif
harus pake baju bagus. Terus kalo Alif lapar nanti Alif makan apa? Makanya Alif
bawa makanan sama susu. Terus kalo misalkan ada yang nanya Ibunya seperti apa
wajahnya, Alif tunjukin deh foto Ibu.” Alif memberi penjelasan kepada Mira.
Mendengar apa yang adiknya katakan, Mira tak sanggup
membendung air matanya, air matanya keluar dengan deras, Mira pun langsung
berlari keluar.
“Ya Allah, aku serahkan semuanya kepada-Mu.” Doa Mira
kepada Allah dalam tangisnya.
Tak berapa lama.
“Lif..lif ada temen-temennya datang.” Bisik Ani pada
Alif
Pelan-pelan Alif membuka kedua matanya, dia mendapati
senyum-senyum semangat dari wajah para sahabatnya. Alifpun membalas dengan
seyum pula.
“Alif, kamu baik-baik aja kan? Aku khawatir banget.” Celoteh
Putri begitu bawel
“Iya Put aku enggak kenapa-kenapa kok.” jawab Alif santai
“Alif cepet sembuh ya, kita kan mau maen bola bareng
kamu lagi.” Sahut Bayu salah satu temen Alif. Alif kali ini tidak menjawab, dia
hanya senyum saja.
“Sudah anak-anak ,Alifnya jangan ditanya-tanya terus.”
Sambar Bu Ustadzah menasehati anak-anak.
Tante Ani sangat senang dengan kedatangan teman-teman
Alif, karena dengan kedatangan mereka membuat Alif gembira. Setelah mereka
bersenda gurau, menghibur Alif, memberi semangat untuk Alif, merekapun
berpamitan pulang.
“Bu Ani, kita mau pamitan pulang, Alif, Bu Ustadzah
sama temen temen pulang dulu ya, Alif cepet sembuhnya.” Papar Bu Ustadzah
berpamitan
“Da .. dah Alif” kata teman-teman Alif berbarengan
Alif hanya senyum sambil melambaikan tangan. Ketika
teman-teman Alif menuju keluar kamar, tiba-tiba Alif memanggil salah satu
temannya. “Putri.” Panggil Alif.
Putri pun menoleh dan menghampiri Alif.
“Put, aku kan mau ketemu Allah, mau ketemu Ibu, aku
titip Tante Ani dan Kak Mira ya, aku enggak mau mereka bersedih, aku enggak mau
mereka nangis. Tolong jaga mereka ya, demi aku, demi pertemanan kita.” Papar
Alif yang semakin membuat air mata Putri semakin deras.
Putri tak menjawab sama sekali, dia hanya menangis dan
terus menangis. Alif menghapus air mata yang melewati pipi sahabatnya dan
berkata. “Kamu juga enggak boleh nangis.” Sambil menyodorkan jari manisnya ke
arah Putri. Putri pun menyambutnya dengan mengaitkan jarinya juga.
Setelah Putri dan teman teman serta Bu Ustadzahnya
pulang. Alif menanyakan keberadaan Kak Mira.
“Kak Mira lagi ke Toilet Lif.” Jawab tantenya itu.
Beberapa saat kemudian,Mira datang. Alif langsung mencium tangan Tante Ani dan
Kak Mira.
Tante Ani dan Kak Mira bingung apa yang Alif lakukan,
air mata terbendung di kedua mata mereka
“Alif mau shalat, tapi pake baju kokoh baru.” Ujarnya
tiba tiba.
Ani dan Mira pun langsung mengiyakan permintaan Alif
tanpa berfikir lama.
Setelah bajunya di gantikan Alif meminta Tante dan
Kakaknya untuk meninggalkannya sendiri. Dan dalam kebingungan Ani dan Mira
menuruti permintaan Alif. Mungkin ia
hanya ingi lebih khusyk, iya itu pasti. Batin Mira
Cukup lama mereka diluar ruangan rawat Alif, setiap
kali mereka mengintip dari pintu, posisi alif tetap shalat. Akhirnya bi Ani
memutuskan untuk masuk untuk memastikan Alif baik-baik saja.
Xxxxx
“Kakak sayang
banget sama Alif, maafin kaka ya selama ini. Maaf karna Kakak belum bisa jagain
Alif. Alif akan selalu jadi adik terbaik Kakak.” Ucapnya lirih.
“ Kakak sayang Alif tapi Allah lebih sayang sama Alif.
Kalau Alif tetep sama kaka Alif akan terus merasa sakit, tapi kalau Alif sama
Allah, Alif enggak akan merasakan sakit lagi. Alif akan mendapat semua yang
Alif mau termasuk ketemu sama Ibu.” Lanjutnya agak tercekat
“ Selamat ulang tahun Adikku sayang. Alif dapet kado
yang Alif mau, ketemu Ibu. Kak Mira akan selalu sayang Alif. Titip salam ke
Ibu, Kakak juga kangen sama Ibu.” Paparnya haru sambil mengusap air mata yang
membanjiri wajah ayunya.
“Mira ayo” ajak Ani
“Kakak pulang dulu ya Lif, kaka janji akan
sering-sering nengok Alif. Jangan lupa Alif jaga Ibu ya.” Ucapnya sendu dan
kemudian berlalu. Hanya meninggalkan jejak langkah ikhlas mengantar kepergian
Alif dengan senyum senja mendung. Seakan langit tahu perasaannya.
Selamat jalan Alif...
Xxxxxxx
Created By : Nurul Hasanah
Edited By : Novia Dewi
Langganan:
Postingan (Atom)
